Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Maret 2013

Bangga dengan maksiat...?


Ada –ada aja ya cara setan buat nggodain iman manusia. Kelihatan dari mulai hilangnya rasa malu pada remaja-remaja zaman sekarang. Perhatiin aja tanpa rasa malu banyak pasangan remaja yang bermesraan di pinggir jalan dan tempat umum lainnya. Kalau kita denger cerita dari kakek nenek kita dulu mesti kita nggak bakal denger tentang pacaran yang sering kita lihat sekarang. Di masa mereka pacaran dianggap hal yang melanggar norma sosial. Mereka aja kalo mau pacaran harus diem-diem biar nggak ketauan orang lain. Sedangkan generasi  kita ini? Na’udzubillahi min dzalik teman,, berapa pasang orang pacaran coba yang tiap harinya kita lihat? Saking banyaknya sampai nggak kehitung berapa jumlahnya. Pacaran bahkan sudah menjadi trend hidup yang harus dilakukan oleh tiap pribadi. Parahnya lagi pacaran sekarang udah layaknya pasangan suami istri lho ngeri ya... kayak misalnya budaya cipika-cipiki bahkan sampai hal yang kelewat batas  **.
          Pegangan tangan juga udah termasuk hal lumrah bagi sebagian orang, padahal kan mereka tau mana batasan muhrim dengan non muhrim tapi kenapa pada nggak sadar ya.. menyedihkan sekali teman.. Perbuatan ini temasuk kategori perbuatan mendekati zina lho,, kan Rasulullah SAW bersabda : “Kedua mata itu bisa berzina,

Sabtu, 03 November 2012

Adab Pergaulan Antara Lelaki dan Wanita


                    

1) Menutup aurat. 

Firman Allah SWT: “Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan Yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar);.. “(al-Ahzab:59). 

Aurat wanita dengan lelaki bukan mahram ialah seluruh tubuh kecuali muka dan pergelangan tangan. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW kepada Asma’ RA:

“Wahai Asma’! Sesungguhnya seorang wanita apabila sudah baligh, dia tidak patut memperlihatkan tubuhnya itu melainkan ini dan ini, sambil baginda menunjukkan muka dan kedua-dua telapak tangannya.” (Riwayat Abu Daud)
Aurat lelaki dengan wanita bukan mahram ialah daripada bahagian pusat sehinggalah ke lutut.

2) Menjaga pandangan. 

Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. yang demikian itu lebih suci bagi mereka; Sesungguhnya Allah amat mendalam pengeta
huannya tentang apa yang mereka kerjakan. (30) Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; …(31). (Surah an-Nur, 30-31).
Bukan semua pandangan diharamkan. Imam asy-Syarbini menerangkan: “Pandangan juga dibolehkan pada bahagian

Kamis, 25 Oktober 2012

Rambu-rambu islam dalam bergaul



Pertama, hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan berpandangan mata secara bebas. Perhatikanlah firman Allah berikut ini,“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih baik bagi mereka…katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…” (QS. 24: 30-31).

Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Maka jagalah kedua biji mata ini agar terhindar dari tipu daya syaithan. Tentang hal ini Rasulullah bersabda, “Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud).


Kedua, hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana islami agar terhindar dari fitnah. Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman, “…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali

Pacaran dalam Islam




Pacaran itu diidentifikasi sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai antara lawan jenis. Sebelum menjelaskan pandangan Islam mengenai pacaran, perlu dijelaskan bahwa ada tiga kemungkinan pacaran yang dimaksudkan, yaitu:
1.Hubungan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim, dalam hubungan itu mereka sering berduaan, dan melakukan kontak jasmani berupa pegangan tangan atau semacamnya bahkan sampai ciuman.dan lebih.
2.Hubungan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim, dalam hubungan itu mereka sering berduaan, namun tetap menjaga agar tidak terjadi kontak badan, seperti pegangan, ciuman dan semacamnya.
3.Hubungan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim, tetapi selalu menjaga agar mereka tidak berduaan apalagi melakukan kontak badan dalam bentuk apapun namun masih sering komunikasi bisa lewat e-mail, HP, Chat. Fb. Twiter, dll .
Pacaran dalam bentuk 1-3 dilaksanakan sebagai perbuatan yang mendekati perbuatan zina. Kan pacaran semata2x mengenal sebelum menikah? pada kenyataannya Pacaran hanya di pakai untuk Bersenang2x saja banyak yang nikah gak pacaran dulu, berarti alasan pacaran untuk mencari pendamping hidup salah besar, Masa Mau nikah ko Maksiat dulu,.
Pacaran bukan berarti Ta'aruf yang ada dalam islam . Dalam Islam istilah Ta’aruf ini bukanlah istilah yang digunakan yang mengandung pengertian "pendekatan" untuk menikah. karena jika dimaksudkan dengan maksud tersebut lebih tepat dengan istilah :" Nazhara yanzhuru unzhur" yakni

IKHWAN SEJATI



Seorang remaja pria bertanya pada ibunya, ”Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati!”
Sang Ibu tersenyum dan menjawab…

Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan,

AKHWAT SEJATI



Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang akhwat sejati?”
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.
Anakku…
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyak nya kebaikan yang ia berikan tetapi dari, keikhlasaniamemberikankebaikanitu.
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.
Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.“Lantas apalagi Abi?”